Kebebasan itu menyakitkan,
Karena dunia ini penuh dengan ketakutan berwujud aturan, adat, dan norma-norma.
Dunia ini fana,
tetapi manusia masih juga memanipulasinya dengan menciptakan keseimbangan palsu,
menumbuhkan mitos-mitos, kemudian berbuah ketakutan yang memakai topeng rasionalitas.
Terlalu takutkah manusia terhadap rasa lapar dan kesendirian?
Sehingga menyatu dengan arus dunia dengan wujud rasionalitas ciptaan sekumpulan manusia?
Atau terlalu takutkah manusia akan kebebasannya sendiri?
Padahal kita punya hati nurani?
Manusia hidup dalam kesendirian, dengan kebebasannya.
Tak ada alasan untuk tidak terluka.
Dimana ketika segalanya ingin dituangkan kedalam sebuah tulisan, disinilah aku menggoreskannya.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Rasionalitas Yang Ketakutan
Dalam hidup ini, aku sangat percaya
pada fase. Setiap manusia untuk sementara akan berhenti di titik-titik dalam
rel waktu kehidupannya. Jika ada yang bertanya apa yang paling kusadari dalam hidup,
jawabanku adalah, “aku percaya bahwa aku sadar pada perasaanku yang tertatih dan
terinjak oleh titik-titik waktu yang terbagi itu”. Lalu menuntunku kepada lorong
dimana aku melangkah sendiri, terasing, dan gelap.
Menyendiri akan membawaku menuju kebebasan
sepenuhnya, tak peduli angin berhembus kemana, selagi kemudaanku tak mengusik berubahnya
musim. Kemudian aku bisa dengan bebas sebebas-bebasnya
membaca tulisan-tulisan Tan Malaka yang juga mati dengan sendirinya, sendiri.
Lalu dengan bebas pula mendengarkan Kurt Cobain berteriak betapa dia mencintai dirinya
sendiri dari orang lain, matipun dia dalam sepi yang menembus kerongkongannya dengan
panasnya peluru.
Cerita mengenai Kurt, aku pernah membaca
dan bercerita dengan seseorang yang juga seperti Kurt, bagaimana Kurt hidup terasing,
bahkan dari orang tuanya. Dimasa-masa seperti itu Kurt yang sebenarnya telah lahir,
bukan dari kasih sayang persetubuhan orang tuanya, bukan pula dari didikan persahabatan
lingkungannya. Ia lahir dari keterasingan dibawah kolong jembatan disatu sisi kota
Seattle. Dan Kurt adalah laki-laki penyendiri yang lebih kuat dari pada lingkungannya
yang hidup bersama dan mungkin mengutuk Kurt karena sifat luarbiasanya. Hanya karena
orang-orang tidak terbiasa dengan kata ‘persetan’ atau terlalu iri melihat Kurt
dengan sepenuh hati menikmati kebebasannya.
Setelah itu Kurt pantas menerima
status sebagai seorang Rocker, manusia Rocker. Kesendirian telah menciptakan seorang
rocker sejati, dan menurutku Kurt Cobain setara dengan seorang nabi. Dia beragamakan
Rock n roll, dan Nirvana adalah ruang kerjanya dalam menulis lagu-lagu yang
sudah tak bias dibedakan lagi dengan sabda nabi.
Untuk itu, aku lebih percaya pada
kesendirian Kurt daripada keharmonisan hidup bersama. Dia membangun eksistensinya
dengan kesendirian dan rasa terasing.
Kembali beberapa bulan yang lalu,
aku bertukar pikiran dengan seseorang penyendiri luar biasa di sebuah Bandar
udara. Lalu kami berbicara tentang Eksistensialisme Sartre. Eksistensialisme,
menurut sang penyendiri tersebut,adalah, setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan
siapa dirinya bahkan semenjak dia dilahirkan kedunia. Aku setuju. Karena sangat
tidak penting bagi seseorang untuk mengurusi kebebasan orang lain, toh, siapa saja
juga memiliki kebebasan yang sama. Apalagi mengurusi rasionalitas seseorang,
perlu disadari bahwa setiap manusia menembus dunia yang fana ini dengan cara hidupnya
masing-masing.
Dengan alasan itu, aku berani mengatakan
bahwa setiap manusia itu sama saja.
Sebagai contoh, aku membandingkan
antara seorang dosen dan seorang tukang sapu jalanan. Pakaian, jumlah gaji,
title, kekayaan, segala hal itu bukanlah sesuatu yang membedakan mereka. Apa
yang dikerjakan oleh dosen dan apa yang dikerjakan oleh tukang sapu jalanan cuma
punya satu tujuan yang sama, untuk mempertahankan diri dari rasa lapar,
bertahan hidup.
Manusia harus mempertahankan hidupnya.
Dari cara mempertahankan hidupnya
tersebut kemudian manusia akan berkumpul dengan kelompok-kelompoknya untuk berlindung hanya karena
takut pada rasa lapar. Orang-orang akan membuat kesepakatan, baik itu menjadi koruptor,
memberi label pada orang lain, menertawakan cara hidup orang lain, demi tujuan
agar tidak didatangi ketakutannya, takut untuk “lapar”.
Oleh karena itu, aku tidak akan pernah
percaya pada kesadaran kolektif yang dengan liciknya berkata bahwa semua itu adalah
sebuah rasionalitas. Apakah rasa lapar tidak rasional? Apakah kesendirian tidak
rasional? Apakah seorang penyendiri tidak pernah berpikir rasional? Dan apakah cita-cita
pribadi juga tidak rasional? Satu hal yang aku yakini, bahwa rasionalitas bukanlah alasan untuk lari dari ketakutan akan rasa lapar, kesendirian, dan mengejar cita-cita pribadi.
Jika ingin menjadi rockstar, maka
buatlah jalan untuk menjadi seorang rockstar.
Hidup ini tidak
perlu direduksi dengan alasan rasionalitas, apalagi kemudian rasionalitas yang
tidak jelas tersebut malah mengusik kehidupan orang lain yang notabene adalah manusia
bebas. Ketakutan untuk lapar dan kemudian menjadi pencemooh. Eksistensi seseorang
hanya akan lahir dari pembuktiannya melawan dunia. Seorang pencemooh yang
mereduksi “kelaparannya” dengan alasan rasionalitas dengan sendirinya tenggelam
dan menyatu dengan dunia yang harus dilawan ini, membuat norma-norma, lalu menjadi fana.
Norma-norma adalah produk ketakutan
manusia yang menyerang diri sendiri, kemudian manusia menjadi sebuah norma pula, bukan manusia
yang utuh dengan kebebasannya. “Manusia-manusia norma” tersebut membelenggu manusia-manusia lain
dengan norma-norma yang ada, membelenggu dengan ketakutannya.
Tak ada pilihan lain kecuali melawan, toh, dari
awal aku percaya setiap manusia itu sama. Tak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap
kebebasan karena tiap manusia punya hati nurani. Kemudian, untuk segala alasan
yang muncul, itu hanyalah sebuah ketakutan…
Selasa, 01 Oktober 2013
LUKISAN
Selain realitas, adakah hal lain yang dapat dipercaya?? Di depan mata, ada tumpukan buku dan
tugas-tugas kuliah yang harus dikerjakan. Akankah kita masih bermimpi?
Sepertihalnya meragukan wanita yang berada di dalam peluk
dan ciummu, dan terus mencoba mencari-cari kebenaran untuk berlari menuju cinta
yang imajinatif itu.
Kebenaran yang kutahu hanya John Lennon yang pernah
melakukannya.
Kebenaran yang mati setelah seorang teman membunuhnya
didepan mataku, dimana sebelumnya aku berteriak bahwa aku mencintamu..
Seorang teman yang melukis dirimu menjadi imajinasi yang
indah, kau dilukisnya dengan cat kemustahilan, kau bukan realitas.
Setelah kau menjadi lukisan yang terpampang di pigura
imajinasi, dan kau tidak akan tersentuh. Sedikitpun aku tak dapat menyentuhmu.
Tapi aku punya realitas dimana aku bisa bercinta dengannya..
Minggu, 28 Juli 2013
HUKUM GRAVITASI DAN MASA KANAK-KANAK
Apa esensi yang kita nanti ataupun yang seharusnya kita dapatkan ketika berada dalam sebuah proses bersama dengan banyak manusia? Disinilah kelemahanku. Kecenderungan untuk selalu bertanya-tanya soal sebuah esensi namun melupakan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam perjalanannya. Dan tulisan kali ini ku mulai dari ke-gegabahan-ku, ku mulai dari kelemahanku.
Ini adalah sebuah kesengajaan, sehingga tulisan ini mengandung banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan aku menjadi seseorang yang cerewet menurut beberapa orang. Itu bukan persoalan karena, menurutku, terkadang di satu masa seseorang harus menjadi cerewet dan banyak bertanya karena jika tidak kita tidak akan menemukan Apa esensi dari proses ini, Mengapa aku, kamu, dan semuanya melakukan hal ini, Dimana harus mencari jawabannya, Bagaimana cara untuk menemukan inti dari semuanya, dan Kapan aku bisa mengetahui esensi dari proses ini, dan yang lebih penting adalah Kapan bisa kutemukan esensi dari “dirimu”. Sederhana saja, aku hanya menggunakan metode 5W 1H untuk mencari dan menjawab semuanya. Cerewet, tapi sederhana. Dan sekedar pengingat, akan lebih baik jika yang kebetulan membaca tulisan ini memposisikan diri sebagai orang pertama, konseptor, penyimpul, penggagas, atau apapun istilahnya.
Sebagai bagian dari awal tulisan, kita akan berbicara tentang proses alam dan hal yang manusiawi, yaitu keterkaitan antara proses gravitasi alam dan masa awal dari ke-manusiawi-an manusia dimulai – pertanyaan yang muncul pada masa kanak-kanak. Apa relasi antara gravitasi alam dengan masa kanak-kanak?
Hukum gravitasi, sederhananya adalah sesuatu yang memiliki daya lebih besar akan menarik sesuatu yang punya daya lebih kecil. Ataupun sebaliknya, dimana sesuatu yang kecil akan tertarik pada sesuatu yang lebih besar. Kaitannya dengan tujuanku dalam tulisan ini, gamblang saja, aku akan menarik sesuatu. Anggap saja masa kanak-kanak merupakan “gravitator”nya.
Mengapa masa kanak-kanak? Karena pada usia kanak-kanak kita memiliki banyak pertanyaan. Ketika dewasa, manusia sering kali menjadi enggan bertanya dan sedikit sok tahu tentang perasaan orang lain. Padahal, dalam beberapa hal, khususnya untuk sesuatu yang melewati proses kerja-sama, pertanyaan-pertanyaan sama seperti air yang akan mengisi jalur irigasi agar padi bisa tumbuh dan manusia bisa makan nasi. Dan orang-orang dewasa-lah yang kemudian membunuh insting bertanya pada anak-anak dengan memberikan jawaban-jawaban dangkal dan kemarahan. Padahal, masa kanak-kanak adalah awal dari hidup manusia, memiliki daya tarik yang besar, namun terlupakan. Aku tidak menyalahkan kedewasaan secara keseluruhan, karena dewasa juga merupakan proses yang manusiawi.
“Ibu, itu apa?”
“Yah, kok daun warnanya hijau, ya?”
“Bang, ini cara mainnya gimana, ya?”
“Om, kapan oom lahir?”
“Nte, air terjun Niagara itu dimana, ya?”
Kurang lebih seperti itulah pertanyaan anak-anak, sederhana tapi cerewet, dan tentusaja penting. Orang-orang dewasa jarang sekali memaknai pertanyaan-pertanyaan seperti diatas sebagai sesuatu yang sederhana dan penting, kecuali cerewet. Maka harus dibatasi. Pembatasan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa ternyata memiliki dampak yang sangat fatal tanpa disadari oleh mereka. Karena pembatasan tersebut bukan hanya menghilangkan beberapa pertanyaan saja, namun juga membunuh salah satu sisi manusiawi pada seorang individu, yaitu keberanian untuk mengkritisi. Padahal pada awalnya manusia adalah makhluk yang cerewet dan bawel.
Pemaknaan yang salah atas pertanyaan anak-anak sekiranya harus diperbaiki, orang dewasa seharusnya tidak jengkel atas pertanyaan bawel yang muncul dari mulut anak-anak, melainkan mengasah pertanyaan itu agar menjadi lebih tajam. Pada akhirnya, manusia tidak lagi harus memulai bahkan mengenal sikap kritis ketika dibangku SMA atau kuliah, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila nantinya hal tersebut mati sama sekali.
Menilik kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, pertanyaan tersebut muncul akibat dari pemaknaan yang salah oleh karena itu terlalu luas dan terlalu cepat. Pertanyaan tersebut tidak mengiris tipis buah kentang karena pisau yang digunakan tidak pernah diasah dan seharusnya buah kentang yang dapat dibagi menjadi banyak hanya menjadi sedikit. Karena sebuah kesimpulan bukan untuk di pertanyakan, melainkan diciptakan dari pertanyaan-pertanyaan kecil dalam keseharian.
Mau tidak mau, suka tidak suka, “pisau” tersebut harus sering di asah agar dapat mengiris buah kentang menjadi lebih banyak. Dengan kata lain, seorang manusia mesti banyak bertanya agar dapat merinci peristiwa yang dapat dikritisi, walaupun dengan harus “menjadi anak-anak lagi”. Sebagai konseptor, mempertanyakan esensi dari sesuatu yang sudah dibangun oleh dirinya sendiri menggambarkan adanya logika yang terbalik. Sekali lagi kita tarik kembali ke masa kanak-kanak, dimana pada masa itu sebelum kita menyimpulkan bahwa daun warnanya hijau kita akan memberikan pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu. Apakah itu? Kok bisa gitu ya? dan pertanyaan-pertanyaan lain, sampai akhirnya kita dapat memberi tanda pada suatu objek. Bahwa yang menempel di pohon dan berwarna hijau itu namanya adalah daun. Mekanisme yang sangat sederhana sekali.
Namun kecenderungan orang-orang dewasa terhadap pertanyaan anak-anak adalah langsung memberitahukan bahwa yang menempel di pohon itu adalah daun, tanpa menjawab pertanyaan yang muncul berikut-berikutnya lalu menyumpal mulut anak-anak dengan es krim dan permen agar tidak bertanya lagi. Sehingga anak-anak cuma bisa mengunyah dan terbiasa disuap ketika muncul hasrat untuk mengkritisi. Tak dapat dipungkiri lagi mental yang terbentuk dari anak-anak adalah mental pragmatis dan ketika menjadi dewasa mereka hanya bisa mengunyah dan mengunyah. Manusia telah kehilangan apa yang disebut sebagai proses dari masa anak-anak.
Norma, adat, agama, dan batasan-batasan yang diciptakan oleh manusia adalah bukti bahwa manusia diarahkan menuju hidup yang pragmatis. Tuhan dijadikan landasan dari terciptanya norma, adat, dan agama, lalu disisipkan ke dalam jiwa dan pikiran manusia dengan pemaknaan tunggal, bahwa Tuhan tak dapat di kritisi, jadi norma, adat, dan agama juga tidak bisa dikritisi. Padahal, menurutku, jauh di dalam hati manusia selalu bertanya-tanya kepada dan mengenai Tuhan. Untuk itulah kemudian orang-orang yang malas berpikir menciptakan norma, adat, dan agama sebagai jalur untuk melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana dan ke-cerewet-an manusia. Hal itu sama saja dengan menghancurkan gravitasi bumi dan akhirnya bumi tidak lagi menjadi planet yang unik dan berbeda dari planet-planet lain di alam semesta, semuanya menjadi nihil.
Manusia yang hidup dalam realitas memiliki daya gravitasi dan menjadi “anak-anak” adalah tempat manusia menginjakkan kakinya. Walaupun setiap manusia bercita-cita dapat menggapai langit, namun gravitasi agar bisa menginjakkan kaki di bumi merupakan sebuah signifikasi atau penanda bahwa manusia itu hidup. Karena, kecuali bumi, dari Merkurius hingga Saturnus tidak ada gravitasi, oleh karena itu disana tidak ada kehidupan, alias nihil.
Lembaga-lembaga seperti sekolah, kampus, karang taruna, atau organisasi-organisasi pemuda merupakan mediasi untuk melatih dan menyalurkan keberanian dan sifat kritis individu. Dengan catatan, tidak ada pihak yang mendominasi dan otoriter di dalam lembaga-lembaga atau organisasi tersebut. Dimana setiap individu memiliki hak yang sama dalam hal melakukan kritik.
Sebab, terkait dengan kerja dalam organisasi, sifat kritis sangat berguna dan dapat memberikan dampak positif dalam hal pemahaman akan proses kerja organisasi. Yang tentunya juga berbuntut pada tingkat keberhasilan dari kerja organisasi itu sendiri. Kurangnya sikap kritis dalam kerja organisasi merupakan salah satu masalah yang cukup penting untuk dimafhumi dan diperbaiki. Metode yang telah dipaparkan sebelum ini mengenai “proses gravitasi dan masa kanak-kanak” barangkali dapat menjadi bahan renungan dan – semoga saja – layak menjadi pembelajaran dalam hal mengatasi ketakutan-ketakutan untuk mengkritisi sehingga pisau yang tumpul-pun dapat menjadi tajam kembali seperti pada masa kanak-kanak dan bekerja sesuai dengan fungsinya.
Sabtu, 06 Juli 2013
Manusia : Kita Keluar Dari Taman dan Menuju Palung
Apakah alasan atas terjadinya
sesuatu dalam hidup ini? Baik itu peristiwa pernikahan, orang-orang datang
menonton acara kesenian, orang-orang merokok, bahkan adanya pencuri dan pihak
yang kehilangan. Segala peristiwa pasti memiliki alasan sehingga dapat terjadi.
Di suatu siang seorang teman
datang kerumah kontrakanku dan mengabarkan ia kehilangan uang dan
handphone-nya. Dan kedatangan temanku inilah yang membukakan satu pintu untukku,
yaitu munculnya ide menulis. Kemudian ia menceritakan segala perasaannya dan
hal-hal yang mungkin menjadi penyebab kehilangan tersebut. Jujur saja aku turut
prihatin, tapi pikiranku menembus jauh kedalam dan luas jauh melewati rasa
prihatin itu. Karena siapapun tahu, hal seperti ini dapat dinilai secara
manusiawi.
Tapi, kali ini aku lebih tertarik
untuk menilainya dari sisi yang lebih luas. Segala peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan ini sebenarnya memiliki penyebab yang sama, alasan-alasan yang
terbangun dalam melakukan tindakan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh
lingkungan sosio-kultural setiap pelaku kehidupan.
Orang-orang pergi ke sebuah pesta
pernikahan, menonton acara kesenian, dan orang-orang kemalingan, semuanya
terjadi atas pengaruh lingkungan sosio-kulturalnya. Pencuri bisa menjadi
pencuri di dorong oleh berbagai kemungkinan situasi sosial yang dia alami,
misalnya kemiskinan, pergaulan, dan banyak lagi. Orang-orang yang menonton
acara kesenian disebabkan oleh ketertarikannya akan seni yang tercipta karena
lingkungan sosialnya juga.
Pemahaman atas suatu lingkungan sosial akan membuat
siapa saja memahami dan lebih mengerti kemana saja dan dengan cara seperti apa
dirinya akan melangkahkan kakinya dalam hidup. Terkadang seseorang menghindar,
menghampiri sesuatu, merasakan, dan memikirkan sesuatu, semua itu akan lebih
tertata jika dirinya telah melakukan penilaian tentang situasi dan kondisi
lingkungan sosio-kulturalnya. Semua itu dilakukan tidak lebih untuk menciptakan
segala sesuatu yang di inginkan oleh manusia, kenyamanan.
Memahami gejala atau teori-teori
sosial merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang karena setiap
manusia hidup didalamnya. Gejala atau teori-teori tersebut membuat seseorang
dapat menganalisa permasalahan yang ia hadapi dan melakukan langkah-langkah
untuk mengatasinya. Dan barangkali ini juga untuk mengatasi keterkejutan sosial
atas masalah-masalah sosial yang muncul. Karena saya pikir kehidupan dapat
terlihat lebih sederhana dengan adanya teori-teori sosial.
Karena segala sesuatu memang
terlihat sederhana jika dilihat dari sudut yang membuat kita dapat melihat
lebih luas, namun akan berbeda jika kita masuk kedalamnya. Dititik inilah, saya
sedikit meragukan teori-teori sosial sebagai sesuatu yang dapat menyederhanakan
permasalahan manusia. Ilmu-ilmu yang mempelajari mengenai peristiwa-peristiwa
sosial mungkin saja luput akan beberapa hal. Karena saya percaya bahwa, manusia
merupakan makhluk yang paling dinamis dan penuh masalah. Dan ilmu-ilmu sosial
harus mengikuti perkembangan manusia agar dapat menganalisa dan menemukan
solusi dari permasalahan sosial yang terjadi. Seperti obat.
Bagaimana mungkin beberapa orang
pemikir masalah-masalah sosial dapat menemukan solusi dari permasalahan
pedalaman setiap manusia dan menciptakan teori-teori umum atas masalah
tersebut. Karena walaupun teori-teori sosial menjadikan manusia sebagai objek,
namun di satu fase dalam hidup manusia, teori-teori ini tidak berguna sama
sekali.
Akhirnya aku dapat mengatakan
bahwa ilmu-ilmu sosial belum bisa membaca pedalaman seorang manusia yang paling
dalam, dimana ada peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi. Terkadang kita
merasakan isi dada kita bergemuruh, atau tiba-tiba tanpa alasan kita menjadi
suka bahkan cinta terhadap sesuatu yang kita lihat. Hal-hal seperti ini
barangkali bisa dianalisa melalui pendekatan-pendekatan ilmu sosial, namun hal
ini tidak dapat di generalisir dengan satu atau dua teori saja. Sebab setiap
manusia berbeda-beda, baik perasaan maupun masalah-masalah yang dialami.
Mungkin saja ilmu psikologi punya
sesuatu untuk ditawarkan mengenai masalah ini. Saya sendiri menyimpulkan bahwa
manusia merupakan makhluk yang menyimpan penyakit, dan setiap penyakit akan
sembuh jika ada obatnya. Menganalisa penyakit saja tidak akan merubah apa-apa.
Atau barangkali, setiap manusia
harus menciptakan teori sendiri mengenai masalah-masalah yang ada
dipedalamannya. Atau sebutlah ini proses mencari jati diri. Dititik inilah, aku
masih belum dapat percaya terhadap teori-teori sosial sebagai acuan untuk hidup
yang cukup baik, terutama untuk masalah pedalaman perasaan manusia. Ternyata
manusia itu lebih dalam dari yang dibayangkan.
Aku percaya bahwa, setiap manusia
memiliki palung yang sangat dalam yang bakal diselami setiap pribadi. Ini tepat
setelah seseorang menemukan siapa dirinya, kemudian ia akan menyelami palung
tersebut. Kenapa? Hal ini agak mirip dengan kodrat manusia yang dikatakan oleh
guru sosiologi saya di SMA dulu, bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang harus
hidup berdampingan dengan manusia-manusia lainnya. Yang membedakan adalah,
manusia sebagai makhluk sosial dan harus hidup berdampingan dengan manusia lain
ialah untuk mengisi kekosongan sosial dalam hidupnya, misalnya seorang petani
butuh penjual pupuk. Dan masyarakat luas membutuhkan petani untuk mendapatkan
bahan-bahan makanan.
Namun, ketika seorang menusia
menyelami palung yang ada dalam dirinya, walaupun kelihatan sama-sama mencari
sesuatu untuk mengisi kekosongannya, tetapi bukanlah kekosongan sosial
melainkan lebih dalam dari itu. Aku membayangkan, didalam diri manusia ada satu
sosok manusia lagi yang duduk sendiri disebuah bangku taman. Sosok manusia
tersebut tak lain adalah kita sendiri, yang pada masanya kita akan mencarinya.
Ketika seseorang telah menemukan
sosok kembarnya itu, atau sebutlah jati diri, untuk sementara waktu ia akan
merasakan sesuatu bahwa hidupnya mendekati sempurna, bahwa ia akan dapat
melakukan apa saja. Tapi, pada waktunya pula, seseorang akan sadar bahwa pada
bangku taman yang ia duduki tersebut masih tersisa tempat untuk seseorang.
Disaat itulah, aku, kita, dan semua akan melangkah keluar dari taman yang indah
namun sepi, untuk kemudian bertemu dengan palung yang dalam, dingin, sedikit beku
dan harus diselami untuk menemukan siapakah gerangan yang akan mendampingi diri
kita di bangku taman itu. Manusia sudah ditakdirkan untuk kesepian. Tak ada
jalan lain untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi didalam pedalaman
seorang manusia selain berenang dan menyelami palung tersebut.
Didalam palung itulah, pergulatan
yang paling dahsyat dalam hidup seseorang terjadi. Terkadang seseorang
berpikir, untuk melarikan diri dari itu semua, melepaskan segala yang berbau
perasaan dan mengutamakan kebutuhan berdasarkan pertimbangan logika. Kemudian
menemukan hal-hal baru dalam hidupnya. Tapi, apakah mereka bahagia?
Bagaimanakah itu kebahagiaan? Adakah alat ukur kebahagiaan?
Dititik ini, aku mulai meragukan
diriku sendiri dan apa yang kutuliskan sebelum ini diatas. Berpikir tentang
sesuatu yang salah atau benar, memperhatikan cara seseorang mengatasi masalah.
Namun, entah kenapa, setelah melihat berbagai cara orang bergulat dengan
perasaan ataupun logikanya, aku masih saja menceburkan diri kedalam palung ini,
berenang, kemudian menyelam. Kemudian kukatakan pada diriku sendiri, bahwa
hidup itu adalah pilihan. Lalu kutinggalkan bayang-bayang kehidupan diluar
palung ini, dan yang kulakukan adalah terus bergerak mengejar sesuatu yang
kurasa cukup indah untuk mengisi kekosongan pada bangku taman yang
kutinggalkan.
SEBUAH PENUTUP :
“Di palung itu, aku melihat
seseorang wanita yang kubayangkan akan menjadi wanita yang duduk disampingku
pada bangku taman yang kutinggalkan kemaren. Cukup lama kemudian, aku menyadari
bahwa palung yang kuselami ini sangat dalam, dingin menusuk, bahkan mendekati
titik beku. Aku terus menyelami palung, bergerak mendekati si wanita tersebut.
Terlalu jauh, jauh sekali. Pada satu titik kedalaman yang mampu membuat mataku
menjadi nanar, pikiranku kosong, dan menjadi orang yang kebingungan, aku
berpikir untuk meninggalkan wanita yang kukejar ini. Namun, ketika melihat
keatas dan sekitar, semuanya dingin menusuk dan gelap. Aku belum bisa
kemana-mana sebelum muncul sinar cahaya yang lain selain sinar yang dipancarkan
wanita itu. Maka, mau tidak mau aku bergerak terus menuju dirinya. Keadaan
semakin dingin, gelap, dan bahkan beku. Aku melihat kulitku tersayat air dingin
yang mulai menjadi es. Dan kemudian……”
Jumat, 28 Juni 2013
UNTUK IAN DURY : EKSISTENSI DAN POPULARITAS
Jika anda mengikuti perkembangan music di Inggris tahun 70-an, barangkali anda akan menemukan Ian Dury and The Blockhead yang cukup fenomenal di Inggris pada masa itu. Band beraliran Rock and Roll dan sedikit nge-Punk ini di kepalai oleh seorang vokalis berkaki satu yang memiliki aksi panggung yang gila bernama Ian Dury.
Ian Dury lahir di Inggris tahun 1942, ayahnya merupakan seorang sopir bus bernama William George Dury dan ibunya adalah seorang anggota dari komunitas perawat di Inggris. Pada awalnya, Ian merupakan anak yang tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Namun, di suatu ketika ia bersama ayahnya berkunjung ke sebuah danau untuk berlibur. Namun malang, virus polio yang merebak pada masa itu telah membunuh sebagian tubuh Ian, ia kehilangan kaki kanannya karena virus polio telah melumpuhkannya.
Dengan kondisinya yang cacat tersebut, akhirnya ayahnya menyerahkan Ian untuk dirawat disebuah rumah rehabilitasi yang khusus merawat anak-anak yang mengalami cacat fisik. Rumah rehabilitasi tersebut memiliki seorang pengasuh yang merupakan mantan tentara dan sangat keras. Termasuk Ian Dury, ia diperlakukan sangat keras bahkan cukup kasar untuk anak-anak yang mengalami kecacatan fisik.
Perilaku kasar dari pengasuhnya tersebut membuat Ian tumbuh menjadi anak yang emosional dan marah. Pengalaman masa kanak-kanaknya inilah yang kemudian itu tulis dalam lagunya yang berjudul “Clever Trevor”. Ian, dalam lagunya tersebut, mengatakan bahwa ia merupakan seorang anak yang cukup cerdas dan lagu ini menunjukkan sikap menantang Ian terhadap kecacatan fisiknya.
Seiring waktu berjalan, Ian tumbuh menjadi seorang remaja. Kemudian ia mulai meniti karirnya dalam bidang music. Pada masa awal ia bermusik dan membentuk band yang bernama Kilburn & the High Roads, namun berkali-kali ia mengganti personil bandnya karena ia merasa belum ada yang bisa menampung kegilaannya.
Pada penampilannya di awal-awal karirnya, ketidakseimbangan ini membuat Ian dan bandnya mendapat tanggapan negative dari penonton. Hingga akhirnya pada perombakan terakhirnya Ian membentuk Ian Dury and The Blockhead.
Di band ini, Ian menemukan kecocokkan dalam bermusik. Lagu-lagu yang ia ciptakan bersama Blockhead sangat mereprentasikan pengalaman masa lalu Ian. Lirik-lirik yang sedikit sedih namun melambangkan pemberontakan menandakan bahwa Ian merupakan seorang yang Rock and roll.
Lagunya yang berjudul “Billericay Dickie” merupakan salah satu dari lagunya yang menurut saya sangat menggugah. Didalam lagu tersebut, Ian menceritakan kisahnya yang tengah jatuh cinta dan ingin memiliki wanita yang ia cintai. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang diremehkan dan tidak mungkin bisa memiliki wanita tersebut, namun ia menunjukkan pemberontakannya dalam lagu ini.
Salah-satu liriknya yang menunjukkan pemberontakan tersebut adalah, “So you ask Joyce and Vickey, if candy-floss is sticky. I’m not a blinking thicky, I’m Billiricay Dickie and I’m doing very well.”
Jika kita membaca liriknya, ini seperti sebuah candaan dari seorang yang tengah mabuk, namun sangat berbeda ketika kita melihat penampilan langsung Blockhead. Ternyata lagu ini memiliki makna yang sangat keras.
Kemudian, jika kita melihat aksi panggung Ian, kita akan melihat sosok emosional dan kejujuran seorang Ian Dury dalam kegilaannya yang ganjil. Barangkali, jika kita tidak membaca riwayat hidup Ian, kita akan menganggap Ian hanyalah orang gila yang sedang menyanyi dalam sebuah band di panggung.
Karena tingkahnya benar-benar melambangkan tingkah-tingkah orang gila pada umumnya, terkadang ia menangis, tetapi beberapa menit kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak. Namun sedikitpun tidak ada yang lucu atau ganjil atas tingkah gila Ian tersebut jika kita melihat masa-lalunya yang tragis. Kegilaan Ian di atas panggung sama saja dengan menonton masalalunya karena memang Ian selalu menggambarkan masalalunya dalam penampilannya.
Aksi panggungnya merupakan alat bagi Ian untuk melawan ketidakberdayaannya di masalalu dan menegaskan bahwa ia merupakan seseorang yang rock and roll. Dan kemudian ia melegitimasikan ke-rock and roll-annya dalam lagunya yang berjudul “Sex and Drugs and Rock and Roll.” Dengan genre musicnya yang juga berbau punk tersebut semakin mempertegas bahwa Ian menjadikan music sebagai media untuk memberontak sekaligus motivasi.
Dalam suatu wawancara dengan penerbitan local Inggris, Ian mengatakan bahwa ketenaran yang akhirnya dicapainya bukanlah hal yang sebenarnya yang ia inginkan. Dia juga mengutip perkataan Paul Mc Cartney,”ketenaran membuatku menjadi orang yang kasar.”
Perasaan semacam ini juga dialami oleh banyak musisi luar biasa lainnya, seperti Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Jim Morrison, dan Janis Joplin, dan di Indonesia ada Band “Ina Blues” yang pernah mengatakan dalam satu wawancara di acara televise swasta, bahwa bagi mereka popularitas merupakan sebuah resiko.
Kurt Cobain merupakan salah satu musisi yang mengalami hal tersebut, namun nasibnya berujung tragis. Ketenaran yang di dapatnya membuat Kurt stress dan akhirnya menarik pelatuk yang diarahkan ke kepalanya sendiri.
Maka, sebenarnya yang di inginkan oleh Ian Dury, Kurt Cobain, Jim Morrison, dan Jimi Hendrix hanyalah sebuah eksistensi, sebuah pengakuan, namun tidak dengan popularitas yang megah. Karena pada dasarnya musisi-musisi tersebut bukanlah orang-orang dengan latar-belakang yang terbiasa dengan popularitas. Bahkan mereka memiliki masalalu yang bisa dibilang cukup suram.
Ian Dury dengan kecacatannya, Kurt Cobain yang pernah tinggal di kolong jembatan, dan Jimi Hendrix yang miskin dan ditinggal mati oleh ibunya, merupakan latar-belakang dari fenomenalitas mereka. Mungkin mereka sempat menikmati popularitas yang mereka dapatkan, namun pada akhirnya mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka lari dari diri sendiri.
Eksistensi bukan berarti popularitas.
Tahun 2000, akhirnya Ian Dury melepaskan nafas terakhirnya akibat penyakit kanker.. Namun, popularitas dan eksistensi merupakan dua hal yang tidak bisa terkubur bersama jasad. Hanya saja, pencarian akan eksistensi membuat Ian Dury menjadi hidup, dan popularitas merupakan hal yang mengarahkan Ian Dury menuju kefanaan.
Disitulah letak perbedaan eksistensi dengan popularitas.
Senin, 20 Mei 2013
ANAK-ANAK WAKTU
Malas adalah konsekuensi tak tampak, parasit yang menempel pada spekulan-spekulan yang ingin memeluk khayal.
Terkadang terkubur oleh waktu, juga bangkit karna waktu. Dua jenis waktu yang bercinta lalu melahirkan manusia-manusia yang lari dari lampu kamar yang redup, lagu-lagu, orang-orang berbicara, rokok, dan kopi yang ada disini, saat ini.
Memang, tanpa analisa kita bahagia, tapi aku adalah seorang analis dan bahkan tukang protes.
Aku terlahir dari hawa-nafsu sang waktu, dan aku durhaka. Menerjang badai yang menghantam jejak-jejak hasrat, sampai saat aku menyimpulkan bahwa di depan ada sejuta pasukan Bar-bar yang mematikan logika-ku.
Apakah sudah seharusnya malas mereduksi puisi jujur menjadi puisi sekedar??? Barangkali itu memang tugas sang malas, tugas yang tidak harus bisa terlaksana.
Sekarang, kutatap malas dengan pandang tajam, mempertegas ke-durhakaan-ku pada sang waktu...
Terkadang terkubur oleh waktu, juga bangkit karna waktu. Dua jenis waktu yang bercinta lalu melahirkan manusia-manusia yang lari dari lampu kamar yang redup, lagu-lagu, orang-orang berbicara, rokok, dan kopi yang ada disini, saat ini.
Memang, tanpa analisa kita bahagia, tapi aku adalah seorang analis dan bahkan tukang protes.
Aku terlahir dari hawa-nafsu sang waktu, dan aku durhaka. Menerjang badai yang menghantam jejak-jejak hasrat, sampai saat aku menyimpulkan bahwa di depan ada sejuta pasukan Bar-bar yang mematikan logika-ku.
Apakah sudah seharusnya malas mereduksi puisi jujur menjadi puisi sekedar??? Barangkali itu memang tugas sang malas, tugas yang tidak harus bisa terlaksana.
Sekarang, kutatap malas dengan pandang tajam, mempertegas ke-durhakaan-ku pada sang waktu...
Langganan:
Postingan (Atom)
